Komunitas Desa Sandik, Gagas Pertanian Modern



Ciptakan Potensi Dengan Hasil Puluhan Juta Setiap Bulan



Lombok Barat (Insidelobar.com) - 
Ditengah merambahnya populasi lahan yang tergerus serta melemahnya ekonomi masyarakat ditengah kondisi pandemi, Komunitas Pemuda Sandik ciptakan Greend House dengan menggagas pola pertanian terapung modern. Bersama kelompoknya, komunitas Pemuda Sandik ini sukses mengembangkan 7 variatas sayuran yang mampu meraup keuntungan puluhan juta dalam sekali panen hanya dalam waktu 24 hari.

Inisiator Pemuda Sandik Tarmizi yang juga anggota DPRD Lombok Barat mengatakan, dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di kalangan masyarakat, pihaknya menggagas bersama dengan sejumlah pemuda di desa. Ide itu muncul dari hasil diskusi dengan teman teman mahasiswa terutama mereka yang begronnya pertanian yang mempunyai gagasan bahwa pola pertanian modern sekarang ini yang lagi naik daun, sehingga dari hasil diskusi kita mencoba membangun kepeloporan  ditengah masyarakat terutama di wilayah Desa Sandik.

Menurutnya, prospek dari budidaya ini luar biasa terlebih ditengah masa pandemi ini. Untuk komoditas apalagi menyangkut kerahanan pangan sangat strategis untuk dilakukan. Begitu pula dengan pola perawatannya sangat sederhana dan tidak rumit.

"Kami disini penerapannya sangat dekat dan bersentuhan langsung dengan teknologi," ujarnya.

Pola tanamnya dari awal Rakit apung yang menggunakan seropung dengan pipa dengan kapasitas banyak.
Disini ada sekitar 7 Variates yang kita coba seperti bayam merah dan ungu, ada pakcoy, sawi ungu, selada ungu dan hijau serta paprica. Namun melihat potensi permintaan lebih kepada selada.

"Intinya dengan pola yang kita gunakan yakni mempertahankan kualitas dari hasil panen. Sebab nutrisi, vitamin dan seratnya itu harus terjaga dan kami utamakan," paparnya.

Mengenai potensi pemasaran jelas dia,  sejauh ini masih tetap stabil. Sebab produk pertanian yang kita punya dijamin kualitas, terlebih disini serba bebas kimia dan harganya pun bisa dijangkau dan memasyarakat.

"Biasanya pembeli yang langsung datang di lokasi, kita kenakan harga 20 ribu perkilo," ucapnya.

Terkait lahannya sendiri, dimana dalunya bekas pembuangan sampah. Tepat di 2019 kemarin, lahan ini kita uruk dan di tata hingga akhirnya dijadikan Grend House. Dengan giat komunitas ini, sampai bisa menghasilkan 40 juta perbulan.

"Alhamdulillah hasilnya lumayan besar," sykurnya.

Disini kita libatkan Karang Taruna Lombok Barat. Bahkan terang Tarmizi, sudah menghadirkan perwakilan dari Kecamatan Lingsar dengan harapan bahwa, kedepan akan menjadi salah satu atensi dari pemerintah daerah juga. Tidak itu saja, pengembangan dari hidroponik ini, ada banyak yang datang berkunjung hanya untuk nengedukasi tentang cara dan perawatannya.

"Pun karena ini selain mengembangkan potensi ketahanan pangan dari pertanian modern disini, obyek ini juga menjadi salah satu referensi dan edukasi bagi orang lain, dan kami welcome untuk itu," kata dia.

Grend house ini tujuannya untuk mewujudkan hasil produksi yang kapasitasnya industri. Kalau melihat dengan peluang pasar, ada istilahnya Hotel Restoran dan Kafe (Horeska) dari sinilah target pasar kita, tapi karena sekarang musim pandemi menjadi imbas dari dampak pasar yng dimaksud.

"Disini sebenarnya kita bisa jadikan file projec seperti dilihat dicontoh dan ditiru, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan lahan lahan yang terbatas bisa melakukan grend house seperti ini," imbuhnya .

Hal ini kata dia, seperti yang sudah dilakukan disebuah Dusun Desa Santeluk. Disitu ada komunitas Dedoro Ijo yang tengah melakukan pengembangan komoditas hidroponik. dan Insya Allah akan semakin besar kedepannya. Komoditas ini bukn hanya pada hidroponik saja, jadi untuk pengolahan sampah menjadi pupuk organik sedang merek produksi.

"Sampai hari ini, mereka juga sedang menciptakan nutrisi tanam sendiri," jelasnya.

Prinsipnya bahwa, dengan pertanian terapung modern seperti ini menjadi usaha tani yang bisa mrnyumvng kontribusi besar dalam mendorong peningkatan ekonomi. Jadi,
kita buka untuk kalangan umum terutama untuk yang mau belajar.

"Kami juga akan mengenalkan pada pertanian modern seperti ini kepada kelompok usia dini," ajaknya.

Sementara Ketua Karang Taruna Lombok Barat Ahmad Muzari mengaku sangat tertarik dengan pola pertanian modern seperti disini. Sebagai wujud implementasi gerakkan ketahanan pangan ini, dirinya bersama kelompok kalangan muda turut andil. Meski tak menggunakan terapung bertecnologi, kelompoknya kompos Kasgot.

"Dalam melaksanakan sejumlah kegiatan ketahaman pangan, kami menggunakan kompos Kasgot yakni kompos yang dihasilkan dengan ulat mabot dengan cara mengurai dari kotoran ayam," jelasnya.

Meski begitu kata dia, sebagai langkah awal, kegiatan ini tengah dilaksanakannya dengan menyentuh kaum muda di dua desa seperti di Desa Bagi Polak dan kelompok pemuda di Desa Langko.

"Pertanian modern seperti ini kami namakan rumah pangan," ujarnya.

Terhitung sejak dua bulan dilakukan, meski belum terlalu besar, namun hasilnya sudah bisa mencapai 700 ribu perbulan dengan hitungan bersih, ungkapnya. (Ikhw@N)
Download
Komunitas Desa Sandik, Gagas Pertanian Modern

0 Response to "Komunitas Desa Sandik, Gagas Pertanian Modern"

Posting Komentar