Belasan Tahun Dililit Krisis Air, Ribuan Jiwa Terdampak


Potret Buram Masyarakat Kecil, Menunggu Perhatian Pemerintah

Lombok Barat (Insidelobar.com) - Terdampak kekeringan , dari tahun ke tahun, potret buram ribuan warga di kawasan wisata Batulayar Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat kerap digeret krisis air bersih.
Untuk mendapatkan kebutuhan air bersih, warga harus berjibaku menjajaki   jalan setapak bebukitan dengan melampaui jarak 2-4 kilometer itupun dengan akses jalan yang berbahaya. Warga sangat berharap agar persoalan kekeringan ini ditangani serius oleh Pemda Lobar.

Anggota DPRD Lobar Dapil IV (Gunungsari-Batulayar) Tarmizi  membenarkan, kondisi kekeringan di wilayah tersebut menjadi persoalan yang sangat krusial. Sebab persoalan ini nyata adanya setelah dirinya
turun langsung untuk memastikan  warga Penanggak, Minggu (23/8).

Masyarakat berharap ada upaya penyelesaian oleh Pemda guna memberikan penanganan krisis air yang melilit keseharian mereka sejaih ini. Realita ini sangat menyedihkan lantas menyaksikan warga di tiga Desa dan lima Dusun yang ada di Kecamatan Batulayar, dengan jumlah KK mencapai 1000 KK atau sekitar 3000 jiwa.

"Bayangkan saja, saking miskinnya air bersih di tempat ini, untuk kebutuhan orang meninggal dunia pun warga harus urunan air. Menderita dan menyedihkan sekali warga kita ini, " sesalnya.

Warga yang terdampak ini jelas Tarmizi terdapat di Desa Bengkaung berlokasi di Dusun Bunut Boyot dengan jumlah KK 120 dan Dusun Pelolat jumlah KK sebanyak lebih dari seratus. Selai itu kekeringan juga menggerogoti Desa Batulayar yang menyasar tiga Dusun, yakni Dusun Penanggak Timur, Penanggak Barat. Di dua Dusun ini sebanyak 600 KK yang terdampak. Belum lagi Apit Aik 90 KK, dan Dusun  Paok Lombok 90 KK. Ditambah di  Desa Batulayar Barat, dusun Duduk Atas 120 KK.

"Bertahun tahun warga Batulayar ini hanya bisa di suplay lewat penanganan jangka pendek saja oleh Pemda. Mestinya Pemda buka mata hati agar bisa memperhatikan kebutuhan vital ini agar bisa prioritaskan anggaran untuk masyarakat kecil ini," kesal dia.

Tindaklanjut persoalan kemanusiaan ini, kita mendorong agar Pemda segera melakukan kajian dan survey untuk upaya menangani secara teknis krisis air dampak kekeringan disana. Apakah melalui pipanisasi atai semacamnya sangat memungkinkan untuk menyelesaikan kebutuhan kemaslahatan orang banyak ini.

"Kawasan hutan dan perkebunan disekitarnya terdapay empat titik
sumber mata air dan sangat berpotensi," terang Kejet sapaan akrab Politisi Nasdem ini.

Sebab bicara efesiensi anggaran justru pipanisasi lebih efesien. Karena bisa memanfaatkan potensi sumber mata air di hutan yang sudah ada dengan membuat reservoar (bak penampung). Dibandingkan dengan penanganan dengan droping air tiap tahun, meskipun biaya tidak terlalu besar untuk distribusi air, tapi kalau diakumulasi justru menjadi besar.

"Masalahnya sederhana tinggal, apakah Pemda bisa alokasikan anggaran untuk itu," pinta dia.

Bahkan lanjut Kejet, hasil koordinasi dengan tokoh dan pemuda setempat, masyarakat sendiri berkomitmen untuk pengelolaan air bersih jika menggunakan pipanisasi. Warga juga berkomitmen berswadaya untuk biaya pemeliharaan tiap bulan.

"Kami mendorong penanganan terintegrasi dengan pipanisasi yang efektif," ujar dia sembari mengakui ada reservoar di daerah ini namun itu belum maksimal mengatasi krisis air.

Untuk mendapatkan air warga terpaksa menempuh Jarak 2-4 kilometer, itupun warga harus melalui bukit dengan kondisi jalan yang berbahaya. Warga juga membuat bak penampungan air hujan itu semua antisipasi krisis air bersih. Akibat krisis air ini justru mempengaruhi kesehatan warga, karena mereka rata-rata mandi sekali sehari bahkan kesulitan mencuci pakaian seminggu sekali. Belum lagi bicara sanitasi di daerah itu menjadi permasalahan. Bahkan kalau ada warga yang meninggal, warga harus urunan air untuk memandikan jenazah.

"Air ini jadi pangkal masalahnya, termasuk persoalan kesehatan, karena itu harus segera diatasi,"tegas dia.

Sebagai bentuk komitmennya kata Kejet, pihaknya siap mengarahkan program Pokir. Bahkan anggota DPRD dapil IV juga berkomitmen untuk berkontribusi. Selain itu, ia mendorong agar pihak pengusaha vila dan penginapan di daerah dataran tinggi itu juga berkontribusi, harap Anggota DPRD Lobar ini.

Seperti yang dialami masyarakat Dusun Penanggak Desa Batulayar, terdapat 600 KK atau sekitar 1.200 jiwa terpaksa menempuh jalur tiga kilometer dari pemukiman untuk  memperoleh air bersih. Warga pun harus melewati perbukitan terjal dari permukiman. Dimana setiap harinya warga mengambil air dengan menenteng drigen seukuran 5 hingga 10 liter dengan menyusuri hutan dan menaiki bukit setinggi 1,5 kilo meter.

"Setiap hari rutinitas kita ambil air kebawah yang jaraknya sekitar 3 kilometer," ucap hermi seorang ibu rumah tangga di dusun Penanggak.

Tidak adanya sumber air membuat warga setempat sering memanfaatkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, sementara warga yang tidak sempat mengambil air terkadang harus membeli dengan harga 25 ribu rupiah per 25 liternya.

"Biasanya kita menampung air hujan kalau musimnu, tapi sekarang ini susah dapet air karna musim kemarau" ungkapnya.

Seperti diketahui kondisi kesulitan air untuk kebutuhan memasak dan minum sudah di alami warga sejak puluhan tahun lamanya, tidak adanya akses air bersih membuat warga harus bertarung nyawa untuk memperoleh dua dirigen air bersih.

Ironisnya hingga kini, pemerintah setempat menanggulangi bencana kekeringan di daerah tersebut hanya sebatas memberikan upaya prefentif dengan mendistribusikan air bersih kepada warga, Itupun masih dirasa kurang efisien dan jauh dari ketercukupan.

"Harapan kami, agar pemerintah juga memberikan upaya permanen agar kami disini tidak kesulitan untuk mencari air bersih setiap musim kemarau," pungkasnya. (Ikhw@N)
Download
Belasan Tahun Dililit Krisis Air, Ribuan Jiwa Terdampak

0 Response to "Belasan Tahun Dililit Krisis Air, Ribuan Jiwa Terdampak"

Posting Komentar