Tidak Sampai di Sini Oleh :Parhaen


Lombok Barat (Insidelobar.com) - Matahari sudah menampakkan sinarnya di ufuk timur, ayam sudah mulai bersautan untuk membangunkan warga, tetesan embun membuat pagi semakin terasa sejuk “Rara, bangun nak, sudah pagi” suara lembut seorang perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku, ya dia adalah ibuku, dengan wajah setengah sadar segera aku lepas selimutku dan bergegas ke kamar mandi, sedangkan ibu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Aku dan ibu hanya tinggal berdua di sebuah gubuk reot, setelah dua tahun kepergian ayah, ibu harus banting tulang melakukan semua pekerjaan demi memenuhi kebutuhan kami, setelah berpakain rapi dan siap untuk berangkat sekolah, aku segera menghampiri ibu yang sedang sibuk di dapur, kulihat ibu yang buru-buru menyiapkan sarapan, rasanya tidak tega untuk menyampaikan pesan ibu Aisyah, tapi ini sudah yang ke 3 bulan aku menunggak, sambil menarik nafas, dengan lirih ku sampaikan amanat ibu Aisyah “bu, kata ibu Aisyah, kapan mau bayar SPP?” ibu berhenti sejenak, menarik nafas lalu melihatku dengan tatapan sayu seraya berkata “titip salam buat ibu Aisyah ya nak, insya Allah kalau ada rizki lebih, secepatnya ibu akan bayar”,sangat jelas terlihat bahwa ibu memang sedang tidak punya uang,karena tidak tega melihat raut wajah ibu yang sedih, dengan nekat aku mengajukan permintaan yang membuat ibu sangat kecewa “bu, bagaimana kalau Rara berhenti sekolah dan ikut bantu ibu jualan” mendengar permintaaanku, ibu langsung menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan tajam “tidak Rara! Kamu harus tetap sekolah, agar kamu tidak seperti ibu”, “tapi…aku ingin membantu ibu!” jawabku meyakinkan, ibu lalu menghampiriku dan mengelus kepalaku seraya berkata “Rara mau bantu ibu?” aku mengangguk “kalau begitu, Rara harus rajin belajar ya nak, supaya Rara bisa sukses” senyum simpul ibu menyudahi obrolan kami. Perekonomian kami memang sedang turun akhir-akhir ini, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa aku lakukan hanya mentaati nasihat ibu untuk terus belajar.

Aku sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA, jarak rumah ke sekolahku lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan, dan aku harus melewati sungai untuk sampai ke sekolah. “hai Rara!” suara seseorang sambil menepuk pundakku, aku menoleh ke belakang, terlihat seorang perempuan berseragam rapi dengan rambut tergerai yang diterpa angin, dia adalah Ranti, teman kelasku, “eh Ranti, tumben kamu jalan kaki” tanyaku heran “hehe iya Ra, motor ayahku dipake sama abang, yah itung-itung olahraga juga lah” Ranti adalah salah satu teman dekatku di kelas, dia adalah anak dari kepala desa di kampungku, ini kali pertama aku melihatnya jalan kaki ke sekolah, biasanya dia diantar oleh ayahnya dengan motor beat berwarna hitam ke sekolah. Yah terkadang aku iri sama temanku yang satu ini, bagaimana tidak? Sudah cantik, pinter, baik lagi. Sedangkan aku? Ah sudahlah, aku hanya bisa mensyukuri apa yang di berikan Tuhan kepadaku.

5 menit lagi bel masuk akan berbunyi, hampir semua murid sudah berada di kelas, jam pertama dengan mata pelajaran matematika, pelajarn yang paling aku suka, “teeeettttt” suara bel masuk berbunyi, semua sudah rapi di kelas untuk menyambut guru yang datang, “ siap…. Beri salam” suara ketua kelas memberikan komando “ assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” suara kami serentak dengan penuh semangat “waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baik anak-anak, sebelum kita melanjutkan pelajarn, terlebih dahulu ibu akan memberikan pengumuman kepada kalian, bulan depan kita akan mengikuti lomba olimpiade matematika se-kota Bogor, dan yang akan mewakili sekolah ini adalah Rara dan Ranti” prok..prok..prok suara tepuk tangan dari teman-teman untuk menyemangati kami, “ sudah sudah, ibu harap kalian belajar dengan rajin di rumah” aku dan Ranti hanya bisa tersenyum kegirangan mendengar ibu Lina menunjuk kami untuk mewakili sekolah dalam lomba olimpiade nanti, ah aku tidak sabar untuk membeitahu ibu berita bagus ini.

Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, burung-burung sudah bergegas kembali ke sarangnya, seperti biasa sebelum ibu pulang, aku menyiapkan makan malam. Setelah selesai salat magrib berjama’ah, kami pergi ke ruang makan untuk menyantap makanan yang telah aku masak sore tadi. Ditemani alunan suara jangkrik dan katak yang saling bersautan di halaman memecah keheningan malam, kami santap makanan itu dengan penuh rasa syukur.
Melihat ibu yang kelelahan setelah mencari rizki, batinku terasa ter-iris, andai saja ayah masih ada, tentu kita tidak akan hidup seperti ini. “ Ra, dimakan nak” suara ibu membuyarkan lamunanku “ ah..iya bu” jawabku sambil tersenyum, aku mau kasih tau ibu ah pengumumuman yang disampaikan ibu Lina tadi di sekolah, siapa tau dengan berita itu, rasa lelah ibu akan sedikit terobati gumamku dalam hati “bu”, “iya nak” jawab ibu sambil membasuh tangannya karena sudah selesai makan “Rara mewakili sekolah dalam lomba Olimpiade matematika se-kota Bogor” sejurus kemudian, wajah ibu yang tadinya lesu, berubah menjadi cerah, secerah mentari pagi, sampai tidak terlihat lagi tanda-tanda ibu kelelahan, sambil menengadahkan tangan kelangit, ibu berkali-kali mengucapkan syukur“ Alhamdulillah,terimakasih gusti, kamu harus rajin belajar Ra! Buat ibu dan alm. Ayahmu bangga nak!”  sambil tersenyum ku anggukkan kepala tanda setuju, lalu ibu menghampiriku yang masih menyantap makan malam dan berkali-kali ibu mencium dan memelukku, aku sangat bahagia melihat ibu yang sudah lupa dengan rasa lelahnya karena mendengar berita itu. Seperti ada semangat yang begitu besar aku rasakan, pokoknya aku akan lebih rajin belajar lagi, aku tidak akan mengecewakan ibu gumamku dalam hati.

Seperti biasa, sebelum mengikuti lomba, kami akan diberikan beberapa latihan khusus oleh ibu Lina. Tidak terasa lomba olimpiadenya akan diadakan besok, aku terus meminta ibu untuk mendo’akanku supaya bisa menang, malam harinya aku terus belajar untuk persiapan lomba besok. Saking seriusnya belajar, aku sampai tidak menyadari kedatangan ibu “ masih belajar nak” ujar ibu sambil mengelus kepalaku, aku hanya mengangguk “sudah larut malam, istirahat dulu ya biar nanti bangunnya tidak kesiangan” ku tatap wajah ibu, lalu ku peluk ibu “ bu, do’akan Rara ya” aku sebenarnya sangat cemas mala mini, aku takut tidak bisa menang dalam lomba kali ini “iya nak, pasti! ibu yakin kamu bisa!” ucap ibu menyemangati.
Hari lombapun tiba, lombanya diadakan di sekolah negeri yang jaraknya sekitar 10 km dari sekolahku, Ranti sudah ada di lokasi lomba karena diantar oleh ayahnya, sedangkan aku berangkat dengan pak Antok dengan motor kirana bututnya, “ayo Ra, naik” ujar pak Antok, aku segera naik dan duduk dengan senyaman mungkin, tak lupa merapikan rokku agar tidak masuk ke rantainya, “sudah siap?”, “sudah pak” jawabku dengan penuh semangat. Ditengah keramaian, tiba-tiba motor pak Antok mati, lalu aku turun dari motor “loh.. pak, motornya kenapa?” tanyaku keheranan, “duh Gusti, ko matinya di saat yang tidak tepat gini sih” gerutu pak Antok, “terus gimana dong pak?” tanyaku mulai cemas “maaf ya Ra, motor bapak memang suka gini, kita bawa ke bengkel yang ada di depan itu dulu aja ya, semoga cepat di perbaiki” ujar pak Antok mencoba menenangkan aku yang mulai terlihat cemas. Perasaanku semakin cemas  karena lomba sebentar lagi akan dimulai dan lokasinya masih lumayan jauh,tiba-tiba terdengar suara dangdut yang asalnya tidak lain dari rington hp pak Antok, ternyata yang menelpon adalah ibu Lina, ibu Lina menelpon untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa, karena lombanya sebentar lagi akan dimulai, lalu pak Antok menceritakan semuanya kepada ibu Lina, pak Antok berusaha bersikap tenang agar suasana tidak bertambah parah, setelah diyakinkan oleh pak Antok, ibu Linapun menutup telponnya. Dan Alhamdulillah setelah 10 menit akhirnya motor pak Antok selesai di perbaiki, pak Antok melaju dengan kencang, sehingga dalam waktu 15 menit kami sudah sampai di lokasi, untunglah aku belum telat, setelah turun dari motor, ibu Lina langsung menghampiriku “ayo Ra, cepat lombanya sebentar lagi akan dimulai”  ajak bu Rina buru-buru, akupun bergegas ke tempat lomba, dengan nafas yang masih tersenggal-senggal aku duduk di tempat lomba yang sudah disediakan, jantungku masih berdegup sangat kencang karena berlarian ke tempat lomba tadi. Ya Tuhan tenangkan aku, kalau begini aku tidak bisa fokus ujian do’aku dalam hati. Tiba-tiba panitia lomba datang memasuki ruangan lomba dan memberikan aba-aba kalau lomba akan segera dimulai, dadaku semakin terasa sesak karena gugup, lalu aku ingat kata  ibu kemarin malam “kamu pasti bisa!”, oke kamu pasti bisa Ra bismillah, gumamku dalam hati, agar aku lebih tenang.
“Teng” bunyi bel berbunyi tanda lomba dimulai. Sebelum menjawab soal kami terlebih dahulu diarahkan oleh panitia untuk berdo’a, aku menengadahkan tangan ke atas dengan penuh kerendahan diri dan berdo’a kepada Allah ”duhai Tuhan yang menguasai alam jagat raya ini, dengan belas kasih-Mu dan mengharapkan rahmat-Mu, hamba memohon untuk dimudahkan dalam menjawab soal lomba olimpiade ini, hamba yakin engkau tidak akan pernah mengecewakan hamba-Mu yang sudah berjuang, aamiin” ku tutup do’aku dengan mengusap mukaku dengan tangan.  “baiklah, soalnya boleh dibuka” pengawas memberikan aba-aba. Kelas terasa hening, semua peserta fokus dengan soalnya masing-masing, Alhamdulillah bagi saya soalnya tidak terlalu sulit, hampir semua soal sudah di ajarkan oleh ibu Lina, 1 jam 25 menit sudah berlalu, 5 menit lagi semua peserta harus sudah selesai menjawab soal yang jumlahnya 50 butir. “Teng” suara bel berbunyi tanda waktu sudah habis, dengan perasaan lega Alhamdulillah aku berhasil menjawab semua soal, meskipun di beberapa soal aku sedikit kesulitan, tapi tidak apa-apa yang penting aku sudah berusaha.
Dua hari sudah berlalu semenjak perlombaan itu, tapi pengumuman untuk juaranya belum juga di umumkan, aku terus merasa tidak tenang karena penasaran dengan pemenangnya, saat kelas sedang ribut sambil menunggu guru selanjutnya datang, tiba-tiba kepala sekolah dan ibu Lina masuk ke dalam kelas kami, dalam sekejap semua siswa langsung diam dan duduk dengan rapi, setelah mengucap salam kepala sekolah langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke kelas kami, kepala sekolah akan mengumumkan pemenang lomba olimpiade yang diadakan dua hari yang lalu, hati kami berdegup kencang, berharap kami memenangkan lomba olimpiade tersebut, melihat suasana kelas yang semakin tegang, tanpa berbasa-basi kepala sekolah langsung mengumumkan pemeneng lombanya, “juara satu diraih oleh Rara Diana” ucap kepala sekolah yang membuatku kaget, Rianti yang tidak memenangkan lomba kali ini ku lihat ikut senang mendengar pengumuman itu,  semua memberikan tepuk tangan, ku telusuri satu-satu wajah teman-temanku yang terlihat ikut bahagia dengan pengumuman itu, berkali- kali ku ucapkan syukur dalam hatiku. Akupun maju ke depan kelas untuk menerima piala, piagam penghargaan dan uang senilai Rp3.000.000, ya Allah hamba berterimakasih atas karunia-Mu, semua ini ku persembahkan untuk ibu yang selalu mendo’akanku, aku tidak sabar untuk menunjukkan semua ini kepada ibu.

Seperti biasa sambil menunggu ibu pulang, aku menyiapkan makan malam, dengan rasa bahagia aku tak sabar melihat raut wajah ibu nantinya, “assalamualikum” nah itu dia, benakku. Segera ku berlari menyambut ibu “ibu, ibu ayok cepat masuk” pintaku tak sabar “ ada apa sih Ra?” aku lari ke dalam kamar, mengambil piala, piagam dan uang tunai Rp3.000.000, segera ku tunjukkan kepada ibu. Melihat aku yang membawa semua itu, ibu diam mematung di depan pintu sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kulihat ibu menangis terharu, lalu ibu menghampiriku, memelukku dan berkali-kali menciumku sambil berkata “ibu bangga nak, ibu bangga” sore itupun kami tutup dengan tangis bahagia, perjalananku tidak sampai disini ibu, Rara berjanji akan membuat ibu bangga dengan prestasi Rara selanjutnya.
Penulis
Parhaen, mahasiswi semester satu di universitas islam negri Mataram, lahir di Lombok, 8 Oktober 2000
No. Hp :87850731423
Download
Tidak Sampai di Sini Oleh :Parhaen

0 Response to "Tidak Sampai di Sini Oleh :Parhaen"

Posting Komentar