Kesadaran Pariwisata dan Peran Media Jadi "Branding" Pengembangan Wisata



Forta Lombok Barat Bertandang Di Bali Post Diskusi Mengenai Branding Kemajuan dan Peningkatan  Destinasi Wisata

Destinasi Wisata Tanah Lot Denpasar Bali Post 

Denpasar (Insidelobar.com) - Tujuan wisata terpopuler Indonesia yang terkenal hingga mancanegara menjadikan Pulau Bali sebagai icon pariwisata Indonesia. Memiliki beraneka potensi pariwisata berupa wisata pantai seperti pantai Kuta yang sangat terkenal dengan sunset dan surfing, wisata alam, wisata seni dan budaya, juga wisata belanja seperti kawasan Legian dan Seminyak. Pulau Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura. Bagi para wisatawan, Pulau Bali adalah surga wisata yang tiada duanya. Populer nya pulau Bali tak lepas dari komitmen dan kesadaran semua lini mulai dari pemerintah hingga Masyakarat bawah dalam mengembangkan Pariwisata setempat. Kesadaran Pariwisata menjadi modal utama dalam pengembangan wisata di daerah itu. Hal tersebut, Peran Media dalam "membranding" melalui berita positif turut berkontribusi besar.

Demikian intisari hasil diskusi Forum wartawan (Forta) Lobar dengan redaksi Bali Pos dan pantauan lapangan di pulau Dewata tersebut. Sebagai destinasi wisata, Bali sudah berangkat dari sejarah. Sejak era kolonial, Bali tetap menjadi tujuan wisata favorit orang Eropa. Seniman dan selebritas menikmati sekaligus mempopulerkannya. Sejarah ini membuat Masyakarat memiliki kesadaran yang begitu kuat untuk menjaga pariwisata Bali.

"Sejarah Bali sebagai destinasi sangat panjang, ini membuat ruh kesadaran mulai dari pemerintah hingga semua lini sangat kuat untuk menjaga Pariwisata Bali,"Jelas dia.

Kesadaran ini sudah mendarah daging di semua lini, sehingga semua protensi yang bisa menganggu pariwisata berupaya tidak dibesar-besarkan dan disebar luaskan baik melalui media sosial.

Kesadaran bagiamana menjaga Keamanan di Bali juga begitu kuat hingga kalangan masyakarat bawah. Keamanan di wilayah ini sangat mendukung sehingga para turis pun nyaman berkunjung ke pulau Dewata. Dalam hal menjaga kebersihan, pulau Bali ini juga patut dicontoh. Wartawan mencoba menelusuri fakta di lapangan terkait penerapan kebijakan pemerintah melarang penggunaan tas plastik di ritel modern hingga toko untuk meminimalisir sampah plastik. Kebijakan ini sangat terbukti ampuh, karena hampir semua ritel, swalayan hingga toko dan penjual makanan yang dikunjungi tidak ada yang menjual plastik.

"Disini dilarang menjual plastik untuk bungkus barang dan makanan, kalau kita jual disanksi denda," tutur Dani, pedagang makanan yang sudah lama merantau di Bali.

Larangan menggunakan plastik ini kata dia mulai diterapkan setahun terakhir ini. Semua pengelola ritel modern, toko hingga penjual makanan dan masyakarat pun sadar larangan ini untuk menjaga kebersihan sehingga tak berani melanggar. Bukan hanya dirinya, semua restoran di sekitar areal di Denpasar tidak berani menggunakan plastik. Sebelum penerapan kebijakan ini, pihak Pemda turun melakukan sosialisasi ke semua pengusaha dan masyakarat. Adanya kesadaran menjaga kebersihan ini juga tercermin dari kondisi kawasan wisata di daerah ini. Hampir di setiap sudut kota Bersih, bebas dari sampah. Semua lini juga menyadari bahwa denyut nadi perekonomian masyakarat di daerah berasal dari Pariwisata. Masyakarat memiliki pemikiran, bagiamana jadinya Bali Tanpa pariwisata.

Besarnya Kesadaran masyakarat ini tak lepas dari edukasi dari media dan semua pihak yang juga memiliki kesadaran yang sama tentang Pariwisata. Media di Bali praktis jarang memberitakan hal-hal yang bisa berdampak terhadap pariwisata. Meskipun memberitakan hal yang berpotensi mengganggu, namun itu dikemas menjadi berita yang soft dan mengedepankan solusi. Untuk edukasi menumbuhkan kesadaran ini, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, sehari dua hari saja. Namun butuh waktu panjang sehingga butuh komitmen baik pemerintah hingga kalangan bawah.

Dibanding dengan Lombok, terbilang baru dalam pengembangan wisata. Lombok memiliki kesamaan dari budaya dan kawasan wisata, seperti Pantai. Bahkan Lombok memiliki potensi yang jauh lebih besar. Lebih-lebih Lombok secara umum mendapatkan prioritas dari pemerintah pusat, untuk dikembangkan menjadi "Bali baru". Diyakini tak butuh waktu lama Lombok bisa berkembang pesat, asalkan masyakaratnya cepat memahami roh kepariwisataan.

"Sebab disana Wisata lebih banyak yang alami," ujar Redaktur Bali pos.

Disatu sisi masyakarat Bali sendiri sudah merasakan manfaat dari pariwisata. Lapangan kerja terbuka, devisa tinggi dan lain sebagainya.

"Karena itu orang (masyakarat) Bali itu sadar bahwa Pariwisata itu sangat penting, tertanam sudah jiwa bahwa Pariwisata itu perekonomian utama,"ujar Gugi redaktur Bali post lainnya.

Peran media lanjut dia, sangat besar dalam pengembangan pariwisata dengan menghadirkan Berita soft dan membranding pariwisata Bali. Ketika ada berita yang berpengaruh terhadap periwisata, media berupaya menghadirkan solusi yang sifatnya mendorong pemerintah segera menangani persoalan tersebut. Media bisa mengkonfirmasi pihak yang memiliki kewenangan dalam persoalan tersebut. Tidak lantas kata dia, media mengkritik saja tanpa menghadirkan solusi kepada pemangku kebijakan. Apalagi memberitakan hal sensasional tanpa memikirkan dampak negatifnya.

"Media disini sangat berperan besar, menghadirkan solusi yang bisa mendorong semua pihak mengatasi semua masalah," terang dia.

Media berupaya meminimalisir ekses berita terhadap pariwisata. Pemerintah juga tambah dia, harus responsif terhadap berbagai persoalan menyangkut persoalan khususnya  berkaitan dengan Paris yang diberitakan media. Perlu kata dia, kolaborasi yang baik antara semua lini, baik itu antara pemerintah dengan media.

"Intinya medis mengkafirkan solusi dan pemerintah berkolaborasi dengan semua pihak termasuk media," tegasnya.

Ia memberikan catatan yang perlu dipikirkan pemerintah di Lombok Barat, bagiamana mengatasi masalah seperti kemacetan dan sampah. Untuk membantu pengembangan wisata di Bali juga tak lepas dari dari sekolah-sekolah pariwisata, tutupnya. (Ikhw@N)
Download
Kesadaran Pariwisata dan Peran Media Jadi "Branding" Pengembangan Wisata

0 Response to "Kesadaran Pariwisata dan Peran Media Jadi "Branding" Pengembangan Wisata "

Posting Komentar