Cerpen : DIBALIK SENJA Oleh. : Dwi Nazatul Firnia


Lombok Barat (Insidelobar.com) - Malam semakin larut, hembusan angin semakin dingin, orang-orang yang berlalu lalang semakin sedikit hingga menyisakan hanya aku yang berdiam diri di pinggir jalan tanpa ada seorangpun. Aku duduk termenung sambil memainkan liontin yang penuh makna, yang ada  dipikiranku sekarang adalah semua kenangan yang telah aku lewati bersama orang berharga dalam hidupku kini tak lagi bisa terulang dan hanya tersisa sebuah liontin yang harus ku jaga, tak terasa tetes demi tetes cairan bening keluar dari mata sembab yang tadinya tak mengalir.

Aku menangis sejadi-jadinya tanpa ada orang yang melihat, mungkin sekarang rupaku seperti orang gila yang tak tau arah, rasanya beban di pundaku terasa sangat berat, sesekali aku melihat liontin di genggaman ku sambil terus menyesali kenangan yang telah berlalu hingga aku sadar bahwa ada seseorang yang melihatku diseberang jalan tanpa bergerak sedikitpun, aku semakin memperjelas pandangan ku takutnya itu bukan manusia karena tidak mungkin manusia  berkeliaran selarut ini dan sekarang sudah pukul 01:30 PM, dan benar dia manusia karena kakinya masih berpijak di tanah dia menggunakan blazer berwarna hitam, topi hitam, semua serba hitam dan sekarang dia menatapku dengan tatapan tajam seakan-akan ingin menerkam ku, aku semakin panik karena dia berjalan menuju padaku, kaki ku bergetar,detak jantungku tidak stabil, rasanya aku ingin cepat pergi dari halte bus, tapi apa boleh buat kaki ku tidak bisa digerakkan sebisa mungkin aku paksa untuk terus menggerakkannya agar terhindar dari laki-laki berbaju serba hitam. Dia semakin dekat tapi aku terus berusaha agar menghindari laki-laki misterius dan aku langsung berlari sekuat tenaga tanpa memeperdulikan apapun hingga aku sampai rumah dengan keadaan tergesa-gesa dan menutup pintu kamar.

Aku terbangun dipagi hari, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 06:00 WIB aku bergegas untuk pergi mandi dan sarapan lalu pergi kuliah karena sekarang ada jam kuliah pagi. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan laki-laki misterius, apa yang dia lakukan selarut itu? apakah dia mendengar semua tangisan dan keluh kesah ku,atau mungkin dia penunggu halte?, pikir ku. Semua pikiran ku kini hanya tertuju pada kejadian malam tadi hingga aku sadar bahwa aku meninggalkan diary di halte bus, aku pun memutar balik motor yang ku kendarai untuk menuju kesana. Sesampai di sana aku tidak melihat apapun, bahkan buku diary ku, yang terlihat hanya anak-anak SMA dan pekerja kantoran. “dasar ceroboh kenapa bisa aku meninggalkan diaryku” kataku sambil menggerutu tidak jelas, aku yakin pasti laki-laki misterius itu yang mengambil diary itu. Aku langsung bergegas dengan muka kesal dan takut karena laki-laki misterius itu pasti akan membaca diary ku, dan aku berharap semoga bisa bertemu dengan dia lagi bukan  karena apa-apa tapi  sekarang yang aku inginkan adalah mendapatkan kembali diary karena bagiku diary itu adalah bagian cerita hidupku yang selalu kutulis disana dan sekarang tujuanku  hanya satu bisa bertemu dengan laki-laki misterius.
Aku berjalan di lorong kampus dengan pikiran yang entah kemana tanpa sadar aku menabrak dada bidang yang tegap dan keras aku meringis kesakitan dan melihat siapa cowok yang ku tabrak, mata ku melebar melihat siapa yang ada di depanku dan ternyata dia adalah Raka Admaja kakak tingkat yang terkenal dingin yang dinobatkan sebagai cowok es kutub saking dinginnya, dan  hidup ku sekarang dalam bahaya “Nai tamat sudah riwayatmu kenapa kau tidak hati-hati” kataku dalam benak. Keringatku sudah mulai bercucuran entah sampai kapan dia menatapku dengan tatapan tajam yang penuh dengan kebencian rasanya aku ingin cepat pergi dari hadapannya namun apa yang ada dipikiranku ternyata salah dia malah pergi begitu saja tanpa ada sepatah katapun, akupun lega mungkin Tuhan sedang melindungiku dari cowok es kutub.

Sampainya dikelas Dina menghampiriku dengan muka yang sedikit khawatir, Dina adalah sahabat yang selalu bersamaku dan tidak pernah pisah sampai-sampai jurusan pun kita sama mungkin inilah yang membuat aku bisa bertahan sampai sekarang. Dia sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri walapun sebelum kejadian tragis itu menimpa keluarga ku.

“Nai kau kemana saja semalam aku menghubungi mu tapi kau tidak mengangkatnya” tanyanya dengan muka khawatir

Namun aku menghiraukannya karena sedang bergelut dengan pikiran yang kacau hingga aku tersadar dengan suara Dina memanggil namaku
“Naila Kirana jawab kamu kemana semalam? Jangan bilang kamu pergi lagi kepemakaman”
“hmmm… iya aku kesana Din”
“kamu sedang rindu ya?”
Aku hanya mengangguk sesekali tersenyum menatap wajah sahabatku
“tak apa Nai aku ngerti kok tapi ingat jangan seperti kemarin malam tidak mengangkat telepon dariku” katanya dengan tersenyum
Pulang kuliah aku memutuskan untuk menginap dirumah Dina karena ingin menjalankan misinyaitu mencari laki-laki misterius dan mengambil diaryku, dirumah Dina aku menceritakan semua yang aku alami dari kejadian malem itu dan bertemu dengan laki-laki misterius hingga menabrak kak Raka semua aku ceritakan karena sekarang yang ku percaya hanya Dina saja karena dia hanya satu-satunya orang yang ku anggap berharga setelah kepergian keluargaku. Dina mengangguk dan ingin menemaniku untuk menjalankan misi itu, kami pun harus menunggu tengah malam agar bisa bertemu dengan laki-laki misterius karena aku yakin dia pasti datang pada saat larut malam.
Pukul 01:00 PM aku dan Dina sudah stay di depan halte bus tapi dina hanya megintai dari kejahuan dan membiarkanku diam sendiri di halte bus itu dengan suasana yang berbeda mencekam dan sangat dingin. Lama sekali aku dan Dina menunggu dan mungkin laki-laki misterius itu tidak datang namun pikiran ku salah aku melihat laki laki misterius itu dengan pakaian seperti awal aku melihatnya serba hitam tapi ada yang berbeda, yaa dia membawa sebuah buku kecil berwarna ungu tidak lain adalah diary ku. Aku terus melihatnya namun aku tidak bisa melihat dengan jelas mukanya karena ditutupi oleh topi, matanya terus menatap ku dengan sangat tajam seperti malam itu hingga membuat ku semakin takut. Langkahnya terhenti diseberang jalan, dan sekarang aku dan dia hanya dibatasi oleh jalanan, aku dengan rasa penasaran dan takut ingin secepatnya mengambil diary dari tangannya lalu pergi namun di sebarang sana sangat gelap hanya di bagian halte bus  saja yang diterangin lampu.
Dia terus menatapku dengan tatapan tajam yang tak bisa aku artikan, aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya namun Dina menarikku dan pergi dari tempat itu. Aku hanya bisa pasrah sembari mengikuti dina dengan tarikan yang kencang menuju rumahnya. Dina memarahiku karena aku melanggar peraturan yang seharusnya laki-laki misterius itu datang menghampiriku agar bisa melihat wajahnya.
“Naila apa yang kamu lakukan tadi ! kenapa kamu menghampirinya?” Tanyanya dengan muka kesal
“Aku tidak tau Din kaki ku tiba-tiba lepas kontrol dan ingin berjalan kesana”
“Kalau seandainya saja aku tidak melihatmu aku tidak tau apa yang akan terjadi sekarang kepadamu”
Mataku mulai berkaca-kaca sambil menahan air mata aku pun berbicara terbata bata
“maaf Din aku hanya ingin diary ku kembali itu saja”
Dina lalu memelukku dengan sangat erat sambil mengusap kepalaku
“Maaf juga Nai mungkin tadi kata-kata ku sedikit keras hingga kamu menangis, aku begitu karena aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa aku tau diary itu sangat berharga tapi ingat keselamatanmu juga jauh lebih berharga”
“Terimakasih Din sudah peduli padaku aku menyayangimu”
Dina memang benar aku juga harus mementingkan keselamatan ku walapun diary belum bisa aku dapatkan tapi aku yakin bisa mengambilnya kembali dari laki-laki misterius itu dan sekarang aku harus menginstirahatkan tubuh dan pikiran ku agar beban ku bisa berkurang dan bisa menjalankan hidup seperti biasanya, walau rasanya tidak mungkin jika hidupku berjalan dengan normal kembali namun aku sekarang bisa bersyukur mempunyai sahabat seperti Dina yang selalu mengerti keadaan ku dan selalu ada di saat aku benar benar membutuhkan seseorang dalam hidupku dan aku yakin semua pasti baik baik saja.
Matahari pagi menyapaku dengan sinarnya yang cerah, ku buka jendela kamar dan melihat keindahan dari sepucuk bunga mawar yang ditembus oleh sinar matahari dan sebaliknya kulihat di tempat tidur ada Dina yang sedang terlelap, tidak tega rasanya membangunkan sahabatku karena dia mungkin capek dengan kejadian malam tadi akupun berencana untuk jalan-jalan di komplek perumahan. Aku terus berjalan melihat di sekeliling komplek semua rumah sangat bersih dan rapi, walapun aku sering kerumah Dina tapi aku selalu kagum dengan kebersihan dari komplek ini memang semua yang menempati komplek ini adalah orang berada tapi sayang walapun terbilang bersih komplek ini sangat sepi bahkan terasa seperti tanpa penghuni.
Kini mataku tertuju pada satu rumah di ujung komplek dengan laki-laki memakai baju kaos berwarna putih, sepertinya laki-laki itu orang baru dari komplek ini karena baru pertama kali aku melihatnya, dilihat dari postur tubuhnya seperti tidak asing bagiku dengan rasa pensaran akupun menghampirinya dan benar saja aku mengenalinya walapun dia tidak menoleh tapi aku bisa tau dari samping siapa lagi kalau bukan kating yang terkenal dingin di kampus, yaa dia adalah kak Raka dengan sedikit gugup aku mundur secara pelan agar dia tidak mengetahui keberadaan ku tapi rasanya hari ini aku sedang apes dia mengetahui keberadaanku. Dengan tanpa menoleh dia melontarkan sedikit kata kepadaku namun bisa membuat ku membeku seketika.
“ Apakah seperti ini cara mu datang kerumah orang tanpa permisi lalu pergi begitu saja?”
“ Dimana sopan santunmu?” Tanyanya dengan nada dingin sambil menoleh kepadaku
“Aaa…anu… itu… maaf kak aku tidak sengaja tadi aku penasaran saja karena baru pertama kali melihat komplek baru di ujung komplek ini jadi aku mencoba kesini” jawabku dengan rasa takut
“Saya tidak mengizinkanmu disini”
“Baik kak aku pergi” kataku dengan nada sedikit tergesa
“Siapa yang menyuruhmu untuk pergi, saya tidak menyuruhmu untuk pergi jadi berhubung kamu adalah tamu pertama saya jadi saya maafkan kamu dan saya persilahkan kamu duduk disini” katanya dengan senyum diwajahnya
Aku mengangguk kebingungan karena baru pertama kali aku melihat senyum diwajah seorang Raka Admaja yang terkenal dingin dan dia sangat berbeda dari biasanya, tatapannya yang tajam dan mukanya yang tidak pernah senyum seketika hilang ketika aku melihat senyum di wajahnya. Dia memang sangat tampan walaupun tidak pernah senyum tapi ketika senyum dia jauh lebih tampan, Aku pun dikagetkan dengan suara deheman kak Raka.
“Khmm.. kamu tidak apa apa?”
“heheheh tidak kak” kataku dengan muka memerah seperti tomat karena kebodohan ku
Tidak banyak yang aku dan kak Raka bicarakan hanya saja dia tidak menanyakan namaku dan hanya fokus pada hanphone yang iya pegang, namun aku tidak heran karena dia orangnya memang seperti itu dingin dan tidak banyak bicara, akupun pulang kerumah Dina lalu kembali kerumah ku. Di rumah pikiranku selalu tertuju pada kak Raka yang awalnya dingin lalu berubah hangat lalu dingin lagi dan tidak bicara sedikitpun hingga disaat aku pulang dia hanya mengangguk dan tidak menoleh, “astaga Nai apa yang kamu fikirkan jelaslah kamu bukan siapa siapanya dan stop jangan fikirkan dia lagi fokus pada rencana awalmu untuk mendapatkan diary dari laki-laki misterius itu”. Tunggu ada yang aneh dari tatapan kak Raka sepertinya aku pernah melihat tatapan itu dan tingginya serta postur tubuh dari kak Raka sepertinya mirip dengan? iyaa seperti postur tubuh laki-laki misterius itu hanya saja laki-laki misterius itu menggunakan pakaian serba hitam tapi apa yang dilakukan kak Raka selarut itu apakah benar itu kak Raka?, sudahlah yang penting nanti malam aku harus mengambil diary ku dari laki-laki misterius itu apapun caranya.
Mala ini aku melanjutkan misi ku untuk mengambil diaryku tapi sebelum itu aku pergi ziarah kemakam kedua orang tua ku dan kakak laki-laki ku, aku membawa liontin yang selalu ku simpan sebagai satu satunya kenangan setelah sepeninggal keluargaku. Aku selalu menangis mengingat tragedi yang sangat menyayat hati.  Ku tumpahkan semua tangisanku tidak peduli apapun, setelah lega aku pun pergi ke halte bus menunggu laki-laki misterius itu. Telah lama ku tunggu akhirnya laki laki misterius itu datang dan hanya melihatku diseberang jalan, dengan sedikit tersedu aku memberanikan diriku untuk berbicara dengannya diseberang jalan.
“Siapapun kamu tolong kembalikan diaryku,itu sangat berharga bagiku tolooong”kata ku dengan menangis namun dia hanya melihatku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan
“Kamu yang ada disana aku mohon kembalikan diaryku” ku ulangi kataku dengan sedikit pelan dan terisak
Tanpa berfikir panjang laki-laki misterius itu membuka masker,topi, serta blazer panjang yang ia gunakan, mataku melebar setelah apa yang aku lihat, kaki lemas dan air mata ku semakin deras akupun tak kuat dan terjatuh sambil menangis, ternyata laki-laki misterius itu adalah orang yang selama ini menatapku dengan sangat tajam dia adalah kak Raka. Dia menghampiriku lalu menyelimuti tubuh ku dengan blazer panjang yang iya lepas tadi, dia membawaku duduk di halte dan membiarkan ku untuk tenang setelah menangis, akupun menanyakannya.
“Apa yang kakak lakukan malam-malam disini! Apakah kakak memata-mataiku?”
Dia pun tersenyum lalu melihatku dengan tatapan sendu tanpa adanya tatapan tajam
“Benar saya memang memata-mataimu” katanya dengan menoleh ke depan jalan
“Maksud kakak apa! Apakah itu sangat tidak sopan ketika memata-matai orang bahkan sampai kehidupan pribadinya?” Tanya ku dengan muka marah
“Kalau saja saya tidak berteman dengan kakak mu mungkin saya tidak akan memata-mataimu hanya saja saya berjanji pada diri saya sendiri untuk menjaga adik dari sahabat saya setelah kecelakaan itu” katanya dengan nada sedikit gemetar
“jadi kakak adalah sahabat dari kakak ku?”
“iyaa! Sekarang kamu sudah mengetahuinya dan saya tidak perlu lagi bersembunyi dari pakaian yang melelahkan itu, dan kamu tidak perlu takut lagi saya akan selalu menjagamu, dan satu lagi untuk diarymu saya tidak membacanya karena saya sudah tau semuanya” katanya dengan memberikan ku buku diary berwarna ungu.
Dia membawaku pulang dan berencana akan mengajak ku pada suatu tempat yang akan membuatku melupakan masa lalu yang kelam. Pagi hari aku pun bersiap dan menunggu karena kak Raka akan mengajak ku ke suatu tempat, dan ternyata itu adalah sebuah pantai yang sangat indah tanpa ada jejak manusia sedikitpun dan hanya ada aku dan kak Raka.
“Kenapa pantai ini sepi?”
“Sudah lama saya tidak kesini! Sejak kepergian Bagas rasanya semua hampa dan membuat saya lebih banyak diam serta mengubah keperibadian saya” katanya sambil tersenyum
“Lalu kenapa saya tidak tau kakak?” kataku dengan sedikit bingung
“Aku sangat ingin kenalan dengan mu namun Bagas selalu melarang ku karena takut aku mengambilmu darinya”
“hahahaha…. Kakak ku memang posesif sekali, dan sekarang apa yang kita tunggu kak hari sudah mulai larut”
“ Tunggu sebentar kamu pasti akan senang melihatnya”
Tak lama setelah itu matahari terbenam dengan indah seperti akan bersembunyi di balik laut, mataku tak berhenti berkedip pemandangan itu sangat indah, yaa matahari terbenam ditemani hembusan angin yang sejuk.
“Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan” kata kak Raka dengan nada lembut
Akupun tersenyum dan langsung berteriak sekencang mungkin
“Ayah, Bunda, kak Bagas baik-baik disana Naila disini baik-baik saja maaf jika selama ini Nai belum bisa melupakan kejadian itu tapi Nai janji akan melupakan kejadian itu dan semangat menjalani hidup ini dan sekarang Naila tidak takut lagi karena ada sahabat kak Bagas yaitu kak Raka dan Dina sahabatku yang akan menjaga Naila, dan sampai kapan pun Naila tetap menyayangi kalian, oh iya Naila masih menyimpan liontin pemberian Ayah untuk puteri kecilnya” aku pun tersenyum lega setelah mengeluarkan semua rasa rinduku
Tiba-tiba kak Raka memegang tangan ku lalu tersenyum sambil sebentar melihat matahari yang sudah tenggelam namun sinarnya masih ada
“Nai kak Raka ingin mengkatkan sesuatu walapaun ini untuk pertama kalinya maaf jika tidak romatis” katanya
“Apa?”
“Naila mau jadi pacar kak Raka?” Tanya nya dengan sepontan
Aku hanya kaget dan tidak bisa berkata apa apa, lalu akupun tersenyum sambil mengangguk kan kepala kak Raka pun tersenyum dan tak lama Dina datang dengan membawa balon yang ternyata sudah direncanakan sebelumnya, Akupun memeluk Dina dengan sangat erat sambil terharu dengan melepas pelukannya Dina pun berucap

“Dibalik senja yang indah terdapat cerita yang menyakitkan namun tidak selamanya senja memberikan bekas luka, walapun senja menampakkan dirinya hanya sebentar tetapi dia bisa memberikan ketenangan yang memiliki bekas yang unik” kata dina dengan sangat bijak.
Download
Cerpen : DIBALIK SENJA Oleh. : Dwi Nazatul Firnia

0 Response to "Cerpen : DIBALIK SENJA Oleh. : Dwi Nazatul Firnia"

Posting Komentar