Asah Peran Aktif Mayarakat, Dewan Sayangkan Masih Ditemukan Kasus Gizi Buruk


Suci Balita Penderita Gizi Buruk Butuh Penanganan Intensif 

Lombok Barat (Insidelobar.com) -
Kalangan Komisi IV DPRD Lombok Barat menyayangkan masih ditemukannya kasus gizi buruk di wilayah Lobar. Pihak Dewan mendorong agar OPD terkait lebih aktif lagi turun ke masyarakat untuk memberikan penanganan dan pendampingan kepada masyarakat. Terlebih Balita Suci yang menderita gizi buruk ini telah lama mengalami penyakit tersebut. Dalam hal ini tidak bisa ansih menyalahkan pihak pemerimtah saja, namun masyarakat khususnya keluarga pasien diharapkan pro aktif dalam penanganan persoalan semacam ini. 
Kediaman Balita Gizi Buruk Terlihat Sederhana dan Miskin

"Disini kita tidak bisa salahkan pihak pemerintah saja,  tapi pro aktif pihak keluarga dan masyarakat juga diperlukan,” jelasKomisi IV H Faedullah,  Kamis 7/11.

Balita ini kata Faedullah, berdasarkan  informasi yang diterimanya, pasiennya  mengalami sakit sejak lama dan sudah pernah ditangani bukan diabaikan begitu saja. Menurut dia, masyarakat dusun setempa tidak terlalu cuek terhadap persoalan semacam ini. Bahkan di dusun ini ada gerakan Rp 1000 untuk membantu warga. Hanya saja kata politisi yang tinggal di dusun setempat, tidak bisa diketahui satu per satu kondisi warga kalau tidak ada informasi dari pihak keluarga.

Di dusun ini terdapat 700 KK dengan 1700 jiwa. Bisa dibayangkan kata dia, bagaimana bisa mengkoordinir persoalan semacam ini sehingga dibutuhkan peran aktif masyarakat. Ia mendorong peran aktif kepala dusun dalam mendata warga yang mengalami kasus semacam ini. Termasuk kata dia, banyak yang belum memiliki kelengkapan administrasi kependudukan. Sehingga ada warga yang protes karena tidak mendapatkan haknya seperti bantuan. Namun setelah dicek, warga ini tidak punya KTP dan kelengkapan lainnya.

“Artinya disini harus ada peran aktif dari kadus,” ujarnya.

Disamping itu politisi Perindo ini mendorong agar pemda dalam hal ini OPD terkait lebih meningkatkan turun melakukan pendampingan dibawah, meskipun sudah dilakukan penanganan namun diperlikan konsistensi dalam menangani.

“Kita tidak tahu seteah ditangai oleh pihah pemerintah, bagaimana keadaannya setelah dilepas. Apakah sudah normal,” pungkasnya.

Sementara itu,  Kepala Dinas Kesehatan Lobar, H Rachman Sahnan Putra menjelaskan penyebab gizi buruk ini karena pola asuh orang tua yang kurang baik karena orang tua tidak teratur memberikan makan anak yaitu hanya satu kali sehari makan dan petugas kesehatan serta kader selalu memberikan konseling kepada orang tua namun orang tua korang respon dan tidak mau anaknya dirujuk untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Disamping itu, ketersediaan makanan yang tidak ada dirumah walaupun sudah mendapatkan bantuan dari desa (PKH dan sembako dari desa) dan lebih sering memberikan nasi bungkus yang dibeli diwarung dimana nasi bungkus dimakan 1 bungkus oleh lima orang. Kendala Orang tua tidak mau bekerjasama dengan tenaga kesehatan juga menjadi faktor pemicu, dimana orang tua selalu  menolak ketika anak akan dirawat dan dirujuk. Ibu balita juga dinilai kurang respon ketika diberikan saran dan informasi oleh kader dan tenaga kesehatan.

"Sedangkan terkait BPJS, balita ini tetap mendapatkan perawatan gratis di puskesmas serta  petugas sudah mendiskusikan dengan pihak desa yaitu sekdes dan kades namun belum ada terealisasi,” urainya.

Berdasarkan kronologis pasien gizi buruk Riska Ramdani atau Suci Istikomah (3). Anak keempat yang saat ini menderita gizi buruk tersebut lahir dengan berat badan lahir anak normal. Namun mulai sakit-sakitan sejak umur 10 bulan yaitu sering menderita mencret dan panas sehinga berat umur 10 bulan 6,6 kilogram. Bila dilihat dipita pertumbuhan berada digaris kuning.   Pada usia 12 bulan berat badan 6 kilogram yaitu sudah berada di bawah garis merah (BGM) dengan kondisi anak dalam keadaan sakit panas dan mencret. Ibu balita pun diberikan konseling gizi oleh kader dan petugas gizi diposyandu. Setelah diberikan konseling  gizi di posyandu, balita dirujuk ke puskesmas.

“Namun orang tua tidak membawa balitanya ke puskesmas,” tegasnya.

Sehingga pada tanggal 14 September 2018, petugas mendapatkan balita dalam kondisi  sakit pnemoni memiliki berat badan 6.7 kilogram dan PB 77,2 centeimeter degan status gizi BB/U -4.11, BB/TB -4.75. Petugas pun langsung membawa balita ini  ke puskesmas untuk dirawat inap, namun lagi-lagi orang tua  balita menolak anaknya dirujuk ke rumah sakit.

"Pihak keluarga bahkan membawa pulang paksa balita pada tersebut pada tanggal 24 September 2018.  Karena orang tua tidak mau anaknya dirawat, petugas memberikan PMT berupa biskuit kepada balita dan memantau pertumbuhan balita diposyandu," terang dia.

Namun status gizi balita masih tetap berada dibawah garis merah. Petugas kesehatan dan kader selalu memantau pertumbuhan balita diposyandu dan rumah balita dengan menimbang dan memberikan konseling setiap bulannya dimana setiap bulan. Dan selama pemantauan, petugas selalu menganjurkan ibunya untuk membawa balita tersebut ke Puskesmas karena anaknya tersebut selalu dalam kondisi  lemah dan sering mencret serta sesak.

Petugas kembali mengunjungi rumah balita dan mendapatkan balita dalam keadaan sakit batuk sesak dan terdapat luka decubitus pada bagian pantat serta kondisi balita yang sangat lemah dimana pantat terlihat baggy pants, iga gambang perut buncit.

Petugas langsung merujuk ke Puskesmas, namun orang tua menolak anak untuk dirawat inap di puskesmas, sehingga dokter hanya memberikan obat dan memberikan F75, dimana F75 tersebut diantarkan oleh petugas setiap hari kerumah balita. (LuN)
Download
Asah Peran Aktif Mayarakat, Dewan Sayangkan Masih Ditemukan Kasus Gizi Buruk

0 Response to "Asah Peran Aktif Mayarakat, Dewan Sayangkan Masih Ditemukan Kasus Gizi Buruk "

Posting Komentar