Papuq Sapiah, Potret Buram Warga Miskin Di Daerah Ibu Kota Giri Menang


Potret Keseharian Papuq Sapiah Mengais dan Memulung Sampah Plastik Tengah Istirahat Sesaat. Secara Kebetulan Seorang Pemuda Asal Sekotong Ini Tengah Mendekat dan Mengajak Curhat Bercengkerama Di Depan Gedung DPRD Lombok Barat

Lombok Barat (Insidelobar.com) -Di bawah sengat terik cahaya siang itu, langkah Papuq Sapiah terlihat letih diantara usia senjanya sedang semangat memilah barang hasil mulung nya, entah seberapa panjang sebarapa banyak pijakannya demi untuk mengumpulkan harapan untuk bisa bertahan melawan sisa hidupnya.

Warga Lingkungan Menang kecamatan Gerung ini masih kuat dan energik, setiap hari ia habiskan waktu berjalan dari satu rumah ke rurmah. Ia keliling dari satu kantor ke kantor lainnya bukan untuk minta-minta,  namun bekerja sebagai pemulung, mengais sampah. Papuq Sapiah ini salah satu potret warga miskin di Gerung, Ibu kota kabupaten Lobar.

Siang itu, ia terlihat masih semangat mengais sampah. Dengan membawa karung plastic, nenek lima anak ini mengenakan jilbab dan berbaju warna ungu motif putih.  Ia baru saja keliling memungut sampah di sekitar perkantoran Pemda Lobar. Tidak saja sampah, botol bekas minuman mineral pun dikaisnya. Tampak Peluh keringat mengucur, dia menenteng karung plastik warna putih yang penuh dengan sampah.

“Saya keliling di lingkungan perkantoran Pemda ini pungut sampah,,” tutur nenek ini sambil duduk melepas kelelahannya.

Sesekali Papuq Sapiah melepas lelah dan dahaganya dengan minum air sisa yang ada dalam sampah botol mineral yang dipungutnya.  Papuq tua yang katanya menjanda sejak 30 tahun ini tetap bangga dengan kerja menjadi pengais sampah, dengan alasan dia bekerja tanpa beban dan untuk dirinya sendiri. Ia mengaku suaminya telah meninggal sejak 30 tahun silam. Ia menceritakan awal mula menjadi pengais sampah dua tahun lalu, karena ia tak kuat lagi bekerja berat akibat kondisinya yang menua. Penderitaannya semakin berat, karena Ia harus menghidupi lima anaknya, empat perempuan dan satu laki-laki. Sejak puluhan tahun ia menjadi tulang punggung keluarga, semenjak suaminya meninggal.

"Saya jadi tulang punggung keluarga, cari nafkah untuk anak-anak saya," tutur dia.

Saat masih kuat bekerja berat, ia bekerja menjadi buruh tani, butuh angkut batu bata.  Semua pekerjaan ia lakukan untuk bisa menghidupi anak-anaknya.

Sehari-hari uang diperoleh dari mengias sampah tidak banyak, hanya  cukup untuk membeli makan sehari-hari. Jika mengangkut sampah di sekitar perkantoran Pemda, dalam dua pekan hanya bisa memperoleh hasil penjualan Rp 50 ribu. Karena Dalam sehari ia hanya bisa mengumpulkan plastik, sisa bungkus makanan dua kilogram.
Karena profesinya ini, tak jarang ia dicibir. Namun ia berprinsip, hidup tidak berhenti karena ejekan dan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Ia mengkau tidak mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) padhal dirinya tergolong kurang mampu. Ia iyah mengkau tidak mendapatkan  PKH. Ia hanya pernah mendapatkan bantuan rumah kumuh dari pemerintah. "Kalau bantuan non tunai dan PKH saya tidak dapat, ndak tahu kenapa saya tidak diberikan. Katanya tidak ada nama saya  terang janda tua ini. (IkhW@N)
Download
Papuq Sapiah, Potret Buram Warga Miskin Di Daerah Ibu Kota Giri Menang

0 Response to "Papuq Sapiah, Potret Buram Warga Miskin Di Daerah Ibu Kota Giri Menang "

Posting Komentar