Pemuda Peduli Korupsi, Desak dan Proses Tiga Kadus Terduga Pungli Prona


Pemuda Peduli Korupsi Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Menunjukkan Contoh Berkas Laporan Yang Diajukan Ke Kejaksaan Beberapa Waktu Lalu


Lombok Barat (Insidelobar.com) -
Kegelisahan warga Dusun Desa Batu Mekar, menelisik kembali perilaku buruk 3 Kepala Dusun agar segera digeret dan di proses ke ranah hukum. Pasalnya, ulah kadus yang dianggap merugikan ratusan warga, telah berani  memberlakukan tarif biaya untuk pembuatan penerbitan sertifikat tanah pada Program Prona dengan nilai variatif hingga 300 ribu persatu sertifikat.

Ironisnya, meski program ini sebelumnya sudah disosialisasi pihak kejaksaaan, BPN dan lainnya, namun tidak mampu merubah niat para Kadus tersebut agar tetap mengenakan tarif atau pungutan kepada ratusan masyarakat hingga jutaan persatu kepala.

"Saya ini korban pungli oknum Kadus. Mertua saya juga sudah dimintai uangnya sama mereka. Belum lagi keluarga saya yang lain, tidak bisa dibiarkan kalau begini perilakunya, karena banyak merugikan warga," unhkap pelapor Inda Kusmawan saat ditemui di kediamannya 26/09 Kamis siang ditemani pelapor lainnya.

Masalah ini lanjut Inda, sudah kita lampirkan berkas laporan ke Kejaksaan dengan dasar, pemohon sertifikat dimintakan atau dipungut biaya persetiap kepala dengan variatif mulai dari 300, 500, hingga dua jutaan. Pelapor sendiri sudah melakukan investigasi dari sejumlah besar warga tentang kebenaran, bahwa oknum Kadus melakukan dugaan tindakan pungli.

"Kami sudah cantumkan 15 orang sebagai pelapor sekaligus korban dugaan pungli oleh oknum Kadus Punikan Utara," bebernya.

Karena ini sudah memenuhi unsur pungli, kita minta pihak yang berwajib agar lekas memproses pelaku sesuai dengan perbuatannya, tutupnya.

Sementara Korban Suhaemi warga Dusun Punikan membeberkan,  peristiwa yang merugikan dirinya, dia menerangkan ketika dia mengajukan pembuatan sertifikat sebanyak 12 lembar, namun oknum Kadus ini mematok tarif per satu sertifikat sebesar 300 ribu. Total dari 12 sertifikat yang dimaksud sebesar 3 juta delapan ratus ribu. Namun dari total tersebut baru diserahkannya Rp 1juta lima ratus ribu.

Setelah beberapa hari kemudian, dia mendengar informasi soal Program Prona ini semua secara gratis, bahkan untuk mendapatkan informasi jelasnya, dirinya mendatangi BPN, serta dibenarkan bahwa Prona itu gratis. Tak lama setelah itu, ia pun mendatangi oknum pungli tersebut dan menerangkan detail Prona ini. Kendati seperti itu, oknum ini justru malah mempertegas bahwa Program Prona yang sekarang tetap dikenakan tarif.

"BPN sudah menegaskan ke saya, bahwa Pogrma Prona itu tidak dikenakan biaya dan itu gratis," detailnya.

Menurutnya, untuk korban pungli disini terdapat hingga ratusan orang banyaknya. Khusus Dusun Punikan sendiri bisa mencapai hingga 150 orang banyaknya dan ini kita sudah di Pungli, kesalnya.

Merasa dirugikan kata Suhaemi, dirinya bersama banyak warga lainnya, mereka berkumpul dan mengajukan laporan pungli kepada pihak Kejaksaaan. Entah kenapa mungkin lanjut dia, kasus tersebut dilimpahkan ke pihak Inspektorat Lombok Barat.

"Pada akhirnya, kami bersama dengan puluhan teman teman lainnya sudah di panggil Inspektorat untuk di BAP di Kantor Desa Batu Mekar setempat. Bahkan saat itu, tiga pelaku dugaan pungli ini sudah mengakui perbuatannya. Hanya saja, dari hampir dua ratusan korban khusus di Dusun Punikan, di tampilnya dan mengatakan hanya 50 orang saja yang dimintai uang saat itu," jelasnya.

Pasca kita di BAP oleh Inspektorat sekitar bulan Agustus kemarin lanjut Suhaemi, sampai hari ini, belum ada titik terangnya. Apakah kasus ini sudah dilimpahkan kembali ke Kejaksaan atau bagaimana, padahal, sudah jelas, oknum oknum ini sudah melawan hukum dan harus diproses secara hukum, tegasnya.

Bahkan kita sudah melakukan hearing ke Inspektorat perihal kejelasan penanganan kasus ini. Karena pada waktu itu, mereka berjanji untuk mengajukan berkas pemeriksaan ke kejaksaan, tapi kok kaya dipending dan macet sampai disini, ada apa dengan Inspektorat ini.

"Kan sudah lengkap sebenarnya pemeriksaan oleh Inspektorat ini, dari hasil keterangan saksi, korban dan pelapor sudah viks dan oke. Orang oknum Kadus yang pungli sudah mengakui perbuatannya. Tunggu apa lagi, segera limpahkan berkasnya ke Kejaksaan dong, bukan didiamkan begini," cetusnya.

Korban lain Sapdiawan menegaskan, jika memang Inspektorat belum menyerahkan ke kejaksaan berkas perkara ini, paling tidak melakukan koordinasi ke Desa setempat atau ke kejaksaan bahwa akhir dari pemeriksaan sudah terselesaikan. Tapi sampai hari ini belum ada kejelasannya.

"Kalau belum ada konfirmasi dari Inspektorat, kami pun menjadi ragu, ada apa dengan Inspektorat? Seharusnya ini sudah diselesaikan," sesalnya.

Kemarin itu kan penyelidikan, laporan sudah ada, saksi ada, barang bukti sudah ada, korban sudah ada dan diatasnya materai. Oknum pelaku juga sudah mengakui perbuatannya, lalu apanya yang masih kurang, herannya.

"Kami berharap, hukum tetap harus ditegakkan, kalau itu sudah terbukti, geret dan proses dia. Karena jangan sampai tindakan pelaku yang sudah merugikan masyarakat banyak, lalu tidak di proses sesuai aturan hukum yang berlaku," tegasnya.

Jelasnya, kita pihak yang melaporkan kasus ini atas kebersamaan dan tidak ada unsur paksaan kecuali dengan keinginan sendiri. Atas nama Pemuda Peduli Korupsi, Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar, mendesak pihak terkait, agar diproses hingga tuntas, pinta Sapdiawan.

Terpisah, Sekdes Supandi Usman yang dikonfirmasi membenarkan, bahwa kejadian yang dialami oknum pelaku telah banyak melakukan penarikan pungli. Bahkan, saat itu kata dia, sudah di periksa dan di BAP oleh Inspektorat di Kantor Desa setempat.bahkan waktu itu, oknum mengakui perbuatannya.

Namun kata Supandi, kalau bisa masalah ini diselesaikan secara baik baik dan secara kekeluargaan saja. Agar jangan sampai kasus ini mengembang dan tetap berjalan, itu harapan saya, singkatnya. (IkhW@N)
Download
Pemuda Peduli Korupsi, Desak dan Proses Tiga Kadus Terduga Pungli Prona

0 Response to "Pemuda Peduli Korupsi, Desak dan Proses Tiga Kadus Terduga Pungli Prona "

Posting Komentar