Kekeringan Status Tanggap Darurat, Bupati Harap Solusi Permanen

Kalaksa BPBD Lobar H. Moh Najib


Lombok Barat (Insidelobar) -  Fenomena Bencana kekeringan kian merambah puluhan Desa dan Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Dampak gejolak dari fenomena bencana ini, genap mengusik dan menggerogoti keseharian masyarakat terhadap kebutuhan air bersih. Bagaimana tidak, sumur dan sumber mata air lainnya yang menjadi obyek air bersih ini, kini nampak semakin susut dan kering tak ada isi.

Satuan Pelaksana (Kasatlak) Penanggulangan Bencana Kekeringan yang sekaligus Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Lobar H. Moh. Najib menyebutkan, bencana kekeringan yang terjadi kini sudah beranjak status, masuk siaga menjadi tanggap darurat. Hal ini menjadi bukti karena semakin  bertambahnya jumlah kecamatan dan desa yang mengalami kekeringan. Hal tersebut dikemukakan saat menghadiri Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Lobar, Selasa (23/7/2019) di Ruang Rapat Umar Madi Kantor Bupati.

“Statusnya bencana kekeringan ini kita naikkan statusnya dari siaga menjadi tanggap darurat,” tegasnya.

Status ini kata Nadjib, menjadi acuan setelah melihat hasil analisis BMKG Kelas I Kediri per tanggal 3 Juni 2019. Kondisi iklim terkini di NTB, menurut BMKG tidak  terjadi hujan, sifat hujan umumnya dan di bawah normal. HTH (Hari Tanpa Hujan) umumnya dalam kategori menengah, antara 11 sampai 20 hari untuk Pulau Lombok bagian tengah hingga selatan. Sedangkan di bagian utara, umumnya dalam kategori sangat panjang, yaitu antara 31 sampai 60 hari.

Dia merinci peta kekeringan di Kabupaten Lobar ada di enam wilayah yang dikategorikan berpotensi kekeringan. Wilayah kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Sekotong dengan 6 desa, yakni  Desa Sekotong Tengah, Kedaro, Sekotong Barat, Plangan, Cendi Manik, dan Buwun Mas. Kecamatan Lembar ada enam desa yang meliputi Desa Labuan Tereng, Sekotong Timur, Mareje Timur, Mareje Barat, Eyat Mayang dan Desa Jembatan Gantung. Lalu Kecamatan Gerung yang meliputi tiga desa yang dilanda kekeringan, masing-masing adalah Desa Banyu Urip, Giri Tembesi dan Desa Tempos. Kemudian Kecamatan Kuripan meliputi Desa Kuripan Timur, Kuripan Selatan dan Desa Giri Sasak. Berikutnya adalah Kecamatan Batulayar yang meliputi lima desa, masing-masing adalah Desa Batulayar Induk, Batulayar Barat, Senggigi, Bengkaung dan Desa Pusuk Lestari. Kekeringan juga melanda Kecamatan Gunungsari, yaitu di Desa Bukit Tinggi.

“Dampak dari bencana kekerigan ini, masuknya periode puncak musim kemarau, masyarakat kita himbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan seperti kekeringan, kekurangan air bersih dan potensi kebakaran lahan,” pesan Najib.

Selaku Satlak dan Kepala BPBD, menjadi leading sector penanggulangan bencana, termasuk bencana kekeringan. Untuk itu, pihaknya telah melakukan survey ke beberapa desa yang dinilai rawan bencana kekeringan, menggelar rapat koordinasi, dan menetapkan pembagian tugas wilayah droping air bersih.

"Untuk distribusi air bersih, BPBD mengandeng Dinas Sosial, Dinas Pemadam Kebakaran, PDAM Giri Menang, Polres Lombok Barat dan bahkan PMI," pungkasnya.

Sementara Bupati Fauzan Khalid menegaskan, melihat gambaran dari jumlah Desa dan Kecamatan, menjadi perhatian bersama untuk sama sama bersinergi mengambil sikap. Damkar juga harus ikut melayani permintaan beberapa surat dari masyarakat, maupun yang telpon langsng. 

"Saya berharap, harus ada solusi permanen terkait hal ini. Jangan sampai setiap tahun selalu terulang," pinta Fauzan.

Pihaknya sendiri, aku Fauzan, selama bulan Juli ini saja sudah mendroping air bersih sebanyak 25 kali. Sedang permintaan sumber air dari Polres Lobar ke pihaknya sudah 10 kali permintaan. Terbanyak yang meminta bantuan air bersih adalah wilayah Kecamatan Gerung yang berbatasan dengan wilayah Lombok Tengah dan Kecamatan Batulayar.

"Sekali drooping, sebanyak 5000 liter," tutur Fauzan.

Selain air bersih untuk kebutuhan minum dan mandi, kekeringan ini diprediksi akan berakibat pada sektor pertanian.

“Ada tiga kecamatan yang terdampak lahan pertaniannya. Kita khawatir mereka akan mengalami gagal panen. Di Kecamatan Kuripan, Sekotong dan Lembar,” akhirnya. (Ikhw@N)
Download
Kekeringan Status Tanggap Darurat, Bupati Harap Solusi Permanen

0 Response to "Kekeringan Status Tanggap Darurat, Bupati Harap Solusi Permanen "

Posting Komentar